Selama ini matematika sering dipandang sebagai kumpulan angka dan rumus yang kaku. Padahal, matematika sejatinya adalah sebuah bahasa: bahasa universal yang digunakan untuk menyampaikan ide, pola, dan hubungan secara jelas dan terstruktur. Seperti halnya bahasa lisan maupun tulis, matematika memiliki sistem, aturan, dan bahkan kelas kata (parts of speech) sendiri.

Dalam bahasa, kita mengenal kata benda (nouns), kata kerja (verbs), kata sifat (adjectives), dan tanda baca (punctuation). Hal serupa juga dapat ditemukan dalam matematika. Angka dan variabel dapat dianalogikan sebagai kata benda, karena merepresentasikan objek atau nilai tertentu. Simbol operasi seperti tambah (+), kurang (−), kali (×), dan bagi (÷) berperan sebagai kata kerja, yang menunjukkan tindakan atau proses yang dilakukan terhadap angka atau variabel tersebut.

Budi memiliki 2 pensil. Budi membelikan lagi 3 pensil. Berapa jumlah pensil yang Budi miliki saat ini?

Soal cerita tersebut dapat dituliskan dalam bentuk “kalimat” matematika sebagai berikut:

2 +3 = 5

Dalam kalimat ini, angka 2, 3, dan 5 berperan sebagai kata benda karena menunjukkan jumlah pensil. Simbol + (tambah) berfungsi sebagai kata kerja yang menunjukkan aksi “mendapatkan lagi”. Sementara itu, tanda = (sama dengan) berperan sebagai kata penghubung yang menjelaskan hubungan antara jumlah awal dan hasil akhirnya. Dengan demikian, cerita tentang Budi dan pensil dapat dipahami melalui bahasa matematika yang singkat dan jelas.

Lebih dari itu, matematika juga memiliki tata bahasa atau grammar. Urutan operasi (aturan PEMDAS/BODMAS) adalah contoh nyata bagaimana matematika mengatur struktur agar pesan yang disampaikan dapat dipahami secara konsisten oleh siapa pun, di mana pun. Inilah sebabnya matematika disebut sebagai bahasa universal: rumus yang sama dapat dipahami oleh orang dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.

Pemahaman ini juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran di Program Studi Pendidikan Matematika. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan rumus matematika, tetapi juga dilatih untuk menggunakan bahasa yang tepat, sederhana, dan komunikatif dalam menjelaskan materi. Calon guru matematika dibekali kemampuan memilih kata, menyusun penjelasan, serta mengaitkan konsep abstrak dengan bahasa sehari-hari agar mudah dipahami oleh siswa.

Dengan memahami matematika sebagai bahasa, pembelajaran matematika tidak lagi sekadar menghafal rumus, tetapi belajar “membaca”, “menulis”, dan “menyampaikan gagasan” secara logis. Pendekatan ini membantu siswa Prodi Pendidikan Matematika di Universitas Alma Ata melihat matematika sebagai alat komunikasi berpikir, bukan sekadar angka di papan tulis. Matematika dan bahasa, pada akhirnya, berjalan beriringan dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Penulis : Esthi Nawangsasi