Pernahkah Anda mendengar seorang orang tua berkata, “Ah, anak saya memang tidak punya bakat di matematika, mirip seperti saya dulu”?. Di tengah masyarakat kita, kalimat ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Kita sering kali menganggap kemampuan berhitung sebagai sebuah “bakat bawaan” atau genetik (sesuatu yang dimiliki sejak lahir, atau tidak sama sekali).

Namun, dalam sebuah Video TED Talk , Shalinee Sharma, seorang pakar pendidikan matematika sekaligus pendiri organisasi nirlaba Zearn, mendobrak stigma kuno tersebut. Ia menegaskan satu hal penting: Semua anak bisa memiliki otak matematika. Masalahnya bukan terletak pada siapa yang belajar, melainkan bagaimana matematika itu diajarkan.

Jika Anda ingin anak Anda berhenti takut pada angka dan mulai mencintai matematika, berikut adalah 4 langkah konkret yang dipaparkan oleh Shalinee Sharma untuk membuka potensi penuh mereka:

1. Langkah Pertama: Kepercayaan (Belief)

Sharma membagikan kisah masa kecilnya sendiri. Di kelas 6 SD, ia sama sekali tidak merasa berbakat di bidang matematika. Namun, hidupnya berubah ketika seorang guru memanggilnya dan berkata, “Jika kamu berusaha keras, kamu bisa sama hebatnya dengan anak-anak lelaki itu.”

Kata-kata sederhana tersebut menumbuhkan keyakinan dalam dirinya. Keyakinan melahirkan keberanian untuk bertanya, keberanian mendorongnya untuk belajar lebih giat, dan kerja keras itulah yang akhirnya membuatnya “berbakat”.

Pesan untuk Orang Tua: Ketika seorang anak kesulitan dalam membaca, kita tidak akan pernah mengatakan, “Dia memang bukan anak tipe pembaca,” lalu menjauhkan semua buku darinya. Jangan lakukan itu pada matematika. Saat anak Anda kesulitan, mereka tidak kekurangan “gen” matematika; mereka hanya butuh Anda untuk percaya bahwa mereka bisa melaluinya.

2. Langkah Kedua: Pemahaman, Bukan Penghafalan (Understanding)

Banyak dari kita yang tumbuh besar dengan cara menghafal rumus demi lulus ujian. Hasilnya? Beberapa minggu setelah ujian, semua rumus itu menguap tanpa bekas.

Sharma menekankan pentingnya menggunakan visualisasi dan logika kehidupan nyata. Ia mencontohkan konsep rasio menggunakan cara membuat roti lapis selai kacang dan cokelat kesukaan anak kembarnya. Matematika harus masuk akal secara visual. Ketika anak-anak diajak memvisualisasikan angka—misalnya dengan menggambar kotak atau membayangkan pecahan—mereka sedang membangun pemahaman yang akan bertahan seumur hidup, bukan sekadar hafalan sementara.

“Memahami pertanyaan secara visual adalah separuh dari jawaban.”

3. Langkah Ketiga: Buat Latihan Menjadi Menyenangkan (Play)

Siapa yang tidak bosan jika disodori selembar kertas berisi 50 soal pembagian yang rumit? Jika kita menggunakan cerita fantasi dan petualangan untuk membuat anak-anak cinta membaca, kita juga harus menggunakan metode yang seru untuk matematika. Cara terbaiknya? Lewat permainan.

Sharma menyarankan permainan papan (board games), permainan kartu, atau bahkan permainan logika sederhana di dunia nyata. Saat anak-anaknya masih kecil, ia sering memberikan mereka uang di pasar tradisional dan meminta mereka menghitung uang kembaliannya sendiri agar tidak dicurangi. Catatan penting: Jangan ubah permainan ini menjadi sesi kuliah yang kaku. Biarkan anak-anak menikmati prosesnya!

4. Langkah Keempat: Berikan Matematika Kesempatan Kedua

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka bisa merasakan jika orang tua atau guru mereka diam-diam membenci atau trauma dengan matematika. Jika kita menunjukkan wajah cemas saat melihat angka, anak-anak akan meniru kecemasan tersebut.

Oleh karena itu, langkah terakhir ini ditujukan untuk kita, para orang dewasa: Berikan matematika kesempatan kedua. Coba lihat matematika bukan sebagai momok menakutkan, melainkan sebagai sebuah bahasa yang penuh logika dan keindahan. Ketika kita mulai berdamai dan menikmati proses berpikir matematis, anak-anak kita akan melihat dan merasakan energi positif tersebut.

Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata (PMAT UAA) berkomitmen penuh untuk mencetak calon pendidik masa depan yang siap menerapkan empat langkah konkret Shalinee Sharma dalam mentransformasi pembelajaran di kelas. Melalui kurikulum inovatif yang memadukan kompetensi pedagogi modern dan penguatan karakter, mahasiswa tidak hanya dilatih untuk menguasai ilmu dasar matematika, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswa (belief), merancang visualisasi konsep yang mendalam (understanding), serta mengemas media pembelajaran berbasis permainan yang interaktif (play). Dengan semangat keilmuan yang adaptif, para lulusan PMAT UAA dipersiapkan menjadi guru yang mampu menghapus trauma matematika masa lalu pada anak-anak, sekaligus menuntun generasi muda Indonesia menemukan keindahan dan logika sejati di balik dunia angka.

Menutup presentasinya, Sharma mengutip filsuf Søren Kierkegaard tentang dua jenis cinta: cinta spontan yang terjadi begitu saja, dan cinta sejati—yaitu sebuah keputusan sadar untuk mencintai sesuatu.

Matematika mungkin bukan cinta spontan bagi anak Anda (atau bagi Anda). Namun, dengan pendekatan yang tepat, kesabaran, dan metode yang menyenangkan, cinta sejati terhadap ilmu angka ini sangat mungkin diraih. Mari berhenti melabeli anak-anak kita, dan mulai membangun rasa percaya diri mereka dari sekarang!

Sumber : TED. (2024, Dec 26). 4 Steps to Unlock Your Kid’s Math Potential (Video). Youtube. https://youtu.be/hg_xzFJ4ZAA?si=5gfQBWjHwPxR-28r