Matematika sering dianggap sebagai bidang yang kaku dan penuh aturan, padahal kenyataannya matematika tumbuh dari cara manusia memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari. Di Yogyakarta, khususnya perkuliahan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata (PMAT UAA), budaya lokal sering dijadikan pintu masuk untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Salah satu budaya yang sangat kaya nilai matematisnya adalah kearifan jual beli tradisional di pasar, yang selama bertahun-tahun menjadi ruang latihan berpikir bagi masyarakat tanpa mereka sadari. Melalui pembelajaran kontekstual seperti inilah Prodi Pendidikan Matematika Alma Ata Jogja mengembangkan pembelajaran matematika yang bermakna.

Contoh sederhana namun kuat dapat ditemukan dalam proses menghitung kembalian. Jika barang seharga Rp19.000 dibayar dengan Rp50.000, perhitungan formal akan menyatakan bahwa kembalian adalah Rp31.000. Namun, dalam budaya jual beli tradisional, penjual sering menggunakan strategi mental berbeda. Ia menambahkan harga barang secara bertahap hingga mencapai jumlah uang yang diberikan. “Ini seribu jadi tiga puluh ribu… ini dua puluh ribu jadi empat puluh ribu… ini sepuluh ribu jadi lima puluh ribu.” Strategi ini menunjukkan fleksibilitas dan kreativitas numerik, kompetensi penting yang juga menjadi fokus pembelajaran di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata.

Variasi strategi semakin terlihat ketika penjual tidak memiliki pecahan uang yang lengkap. Misalnya, ketika penjual tidak memiliki pecahan seribu namun memiliki uang dua ribu, sepuluh ribu, dan dua puluh ribu. Penjual meminta pembeli menambah seribu rupiah terlebih dahulu, sehingga perhitungan kembalian menjadi lebih sederhana. Secara matematis, transaksi menjadi 50.000 + 1.000 – 19.000 = 32.000, kemudian dikembalikan 2.000 + 10.000 + 20.000. Strategi ini bukan sekadar hitungan; ini adalah kemampuan berpikir kreatif yang ingin ditanamkan oleh Prodi Pendidikan Matematika Alma Ata kepada mahasiswanya agar kelak mereka menjadi guru matematika yang adaptif dan solutif.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan visi pembelajaran matematika modern, yaitu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, fleksibel, dan reflektif. Di Alma Ata Yogyakarta, pembelajaran matematika berbasis budaya lokal, etnomatematika, dan konteks realistik menjadi praktik pedagogis yang sangat ditekankan. Hal ini sekaligus menjawab tantangan pendidikan era digital, di mana peserta didik perlu dibekali kemampuan bernalar yang tidak hanya mengikuti rumus, tetapi mampu memilih strategi yang paling efektif dalam berbagai situasi. Ketika siswa menyadari bahwa matematika lahir dari kehidupan mereka sehari-hari, proses belajar menjadi lebih bermakna dan menggembirakan.

Walaupun saat ini pembayaran digital dan QRIS sudah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat, praktik jual beli tradisional tetap relevan sebagai konteks pembelajaran. Bahkan, konteks semacam ini semakin penting untuk membantu siswa mengasah kemampuan berpikir, terutama ketika teknologi terus berkembang. Matematika adalah alat berpikir yang sangat penting untuk masa depan, dan Prodi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata Yogyakarta terus berkomitmen menyiapkan calon pendidik yang unggul, kreatif, dan siap menjawab kebutuhan pendidikan di era kecerdasan buatan.

Penulis : Rino Richardo