Matematika merupakan salah satu ilmu yang penting dipelajari sejak dini karena berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam aktivitas sederhana seperti menghitung uang saat berbelanja, membagi makanan, membaca waktu, hingga mengatur pengeluaran, kemampuan berhitung dan bernalar sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pengenalan konsep matematika tidak harus selalu dimulai di ruang kelas, tetapi dapat dilakukan dari lingkungan terdekat anak, yaitu rumah.
Hal ini tak luput dari perhatian Prodi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata yang menunjukkan kepedulian terhadap perkembangan kognitif generasi muda. Di rumah, seseorang yang memiliki peran sebagai pendamping belajar pertama adalah orangtua, terutama ibu. Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, ibu dapat mengenalkan konsep matematika secara alami melalui percakapan sehari-hari.
Salah satu strategi yang lazim digunakan adalah penerapan soal cerita. Misalnya, “Adik punya 3 permen, lalu Ayah membeli lagi 2. Sekarang Adik punya berapa permen?” atau “Ibu punya uang 5.000 dan 10.000. Adik mau yang mana? Kalau 5.000, Adik bisa dapat 1 cokelat, kalau 10.000 Adik bisa dapat 2 cokelat.” Soal-soal seperti ini membantu anak memahami konsep penjumlahan dan perbandingan melalui situasi yang konkret dan dekat dengan pengalaman mereka.
Universitas Alma Ata melalui Program Studi Pendidikan Matematika juga memahami pentingnya pendekatan kontekstual ini. Mahasiswa PMAT dibekali kemampuan menyusun soal cerita yang komunikatif dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Bekal ini penting, baik ketika kelak menjadi orang tua maupun ketika menjadi pendidik yang menangani anak-anak, sehingga materi yang disampaikan lebih relevan, mudah dipahami, dan bermakna. Pentingnya peran dan strategi ibu dalam mengajarkan matematika sederhana juga dapat menjadi dasar dalam pengembangan program pengabdian kepada masyarakat yang disusun oleh Program Studi PMAT. Melalui program tersebut, mahasiswa PMAT UAA dapat berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan mulai dari skala terkecil, yaitu keluarga, misalnya saja melalui penyuluhan saat Program KKN Tematik. Dengan demikian, sinergi antara perguruan tinggi dan keluarga dapat terwujud dalam upaya membangun fondasi literasi matematika yang kuat sejak dini.