Banyak orang pernah bertanya: “Untuk apa sih belajar matematika kalau jarang dipakai di kehidupan sehari-hari?” Pertanyaan ini wajar—terutama ketika yang diingat dari matematika adalah rumus panjang, simbol abstrak, atau soal yang terasa jauh dari realitas. Tapi benarkah matematika tidak berguna? Atau justru kita belum melihatnya dengan cara yang tepat?

Salah satu alasan utama mengapa matematika terasa “tidak terpakai” adalah karena sifatnya yang tidak selalu tampak secara langsung. Saat kita menggunakan GPS, berbelanja online, atau menikmati rekomendasi konten di media sosial, semua itu bekerja berkat algoritma dan perhitungan matematika—meskipun kita tidak menyadarinya. Matematika sering “bersembunyi” di balik teknologi dan aktivitas sehari-hari.

Di ruang kelas, matematika sering diajarkan dalam bentuk simbol dan prosedur tanpa konteks yang jelas. Akibatnya, siswa sulit mengaitkan antara apa yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Misalnya, konsep integral atau matriks terasa jauh karena tidak langsung dikaitkan dengan aplikasi seperti analisis data, grafika komputer, atau kecerdasan buatan (AI). Ketika konteks hilang, makna pun ikut menghilang.

Sering kali pembelajaran matematika berorientasi pada hasil akhir—benar atau salah—bukan pada proses berpikir. Padahal, nilai utama matematika justru terletak pada cara kita menganalisis masalah, menyusun strategi, dan menarik kesimpulan secara logis. Keterampilan inilah yang sangat dibutuhkan di dunia nyata, meskipun tidak selalu muncul dalam bentuk “menghitung”.

Dunia saat ini bergerak cepat menuju era digital dan data. Matematika menjadi fondasi bagi bidang seperti data science, ekonomi digital, hingga AI. Namun, jika pembelajaran masih menggunakan pendekatan lama tanpa mengaitkan dengan perkembangan ini, maka wajar jika matematika terasa tidak relevan. Padahal, justru di era sekarang, peran matematika semakin penting.

Masalahnya bukan pada matematika, tetapi pada cara kita memandang dan mempelajarinya. Jika matematika dilihat hanya sebagai kumpulan rumus, maka ia akan terasa jauh. Namun jika dipahami sebagai alat untuk berpikir, memecahkan masalah, dan memahami dunia, maka manfaatnya akan terasa nyata.

Di sinilah peran penting Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Alma Ata (PMAT UAA) dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Prodi PMAT UAA tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga menekankan bagaimana menghadirkan matematika secara kontekstual, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dibekali kemampuan untuk mengaitkan materi dengan isu nyata, teknologi, serta kebutuhan generasi masa kini. Dengan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi, calon guru matematika dipersiapkan untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan relevan.

Matematika sebenarnya tidak pernah jauh dari kehidupan kita—ia hanya sering tidak terlihat. Tantangannya adalah bagaimana membuat matematika menjadi lebih “terlihat”, lebih dekat, dan lebih bermakna. Jadi, lain kali ketika bertanya “untuk apa matematika?”, mungkin jawabannya bukan “tidak ada”, tetapi “kita belum melihatnya dengan cara yang tepat.”