Matematika sering kali dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang menakutkan bagi sebagian, bahkan banyak, siswa. Dalam masyarakat, masih terdapat anggapan bahwa mereka yang kesulitan memahami matematika adalah kurang cerdas. Stigma ini tanpa disadari menambah beban psikologis pada anak. Mereka menjadi takut melakukan kesalahan, merasa tertekan, dan perlahan mengembangkan ketidaksukaan terhadap matematika. Ketakutan ini bukan hanya berdampak pada hasil belajar, tetapi juga pada kepercayaan diri siswa secara keseluruhan.

Dalam situasi seperti ini, peran guru menjadi sangat penting, termasuk mereka yang berasal dari Prodi pendidikan matematika yang sedang berlatih menjadi pendidik. Salah satu pendekatan yang sering kali dianggap sederhana, namun memiliki dampak besar, adalah penggunaan bahasa. Kata-kata yang diucapkan guru dapat membentuk cara pandang siswa terhadap proses belajar. Bahasa yang suportif, penuh dorongan, dan tidak menghakimi dapat membantu mengurangi rasa takut siswa terhadap matematika.

Misalnya, ketika siswa melakukan kesalahan, guru dapat merespons dengan kalimat seperti, “Tidak apa-apa, ini bagian dari proses belajar,” atau “Kita coba lagi bersama.” Ungkapan sederhana ini memberi pesan bahwa kesalahan adalah hal yang wajar dan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Dengan demikian, siswa merasa lebih aman untuk mencoba, bereksperimen, dan belajar dari kesalahan mereka.

Program studi pendidikan matematika Universitas Alma Ata juga menyadari pentingnya aspek ini. Mahasiswa pendidikan matematika dibekali tidak hanya dengan kemampuan kognitif, tetapi juga keterampilan komunikasi yang efektif. Mereka diharapkan mampu mengurangi kesan mengerikan terhadap matematika di kalangan siswa. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan pemahaman bahwa setiap anak memiliki fase belajar yang berbeda, dan kesalahan dalam berhitung adalah hal yang lumrah.

Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana untuk membangun lingkungan belajar yang positif. Dengan penggunaan bahasa yang tepat, guru dapat membantu siswa mengurangi ketakutan, meningkatkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan sikap yang lebih terbuka terhadap matematika.